Kegiatan

on 25 Juli 2021
  • Kegiatan
  • SMP Boarding School Bone

“Lebih baik kamu menangis karena berpisah sementara dengan anakmu yang menuntut ilmu agama, daripada kalau kamu sudah tua nanti menangis karena anak anak kamu lalai terhadap urusan akhirat.”

Adalah sepenggal nasihat dari  KH Hasan Abdullah Sahal, salah satu pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor yang paling mewakili suasana haru dan sedih saat siswa-siswi SMP-SMA Islam Athirah Bone harus berpisah dengan orang tuanya.


Pada hari Minggu, (25/7) deretan mobil dan motor tampak lalu lalang keluar dari halaman SMP-SMA Islam Athirah Bone. Beberapa pengantar yang mengendarai sepeda motor juga tampak bergegs meninggalkan lokasi parkir tak lama setelah barang yang menumpuk di belakang kemudinya diturunkan.

Pemandangan haru tersaji tatkala tampak beberapa orang tua terlihat memeluk dan mencium putra dan putrinya sebelum dijemput oleh panitia Welcoming Day untuk melakukan tes swab antigen. Bukan tanpa alasan, karena setelah itu orang tua tidak diizinkan lagi melakukan kontak fisik dengan putra putrinya. Setelah hasil tes swab antigen dinyatakan non reaktif, siswa baru akan langsung diarahkan ke asrama. Adapun barang yang masih ada di kendaraan orang tua akan dijemput oleh panitia pengantardari siswa.

Tentunya bukan hal yang mudah untuk melepaskan buah hati yang selama ini tidak pernah jauh dari ayah bundanya, kemudian tiba-tiba sudah harus menuntut ilmu di Sekolah Islam Boarding Athirah Bone.

Beberapa siswa baru terlihat berat untuk berpisah, tetapi tidak sedikit juga yang mencoba tegar meski sang bunda berlinang air mata. Semuanya demi cita-cita mulia untuk meraih sukses di dunia dan di akhirat.

Harapan besar digantungkan orang tua kepada para siswa baru untuk meraih sebanyak-banyaknya ilmu di Asrama dan Sekolah Islam Athirah Bone, serta memberikan sebanyak-banyaknya kelak untuk masyarakat.

Salah satu kerabat orang tua siswa SMP yang berasal dari Bone yang turut mengantar siswa baru sempat gemas dan geram karena merasa panitia terlalu cepat menjemput putrinya.  Wanita paruh baya tersebut merasa masih butuh sedikit waktu untuk sekadar memeluk dan mencium putrinya yang akan memulai babak baru di rumah kedua, Asrama dan Sekolah Islam Athirah Bone.

“Tunggu sai, kodong nak. Masih mau ki itu sama sama dulu. Sebentar-sebentar pi,” ujarnya dengan dialek khas Bone yang kental.

Panitia dari siswa tetap telaten dan sabar menanti adik kelas barunya untuk diantar menuju tempat swab antigen untuk kemudian dipandu menuju asrama putri. Nurholis_Tim Athirah Web (@nurholismuh)