Kegiatan

on 30 Agustus 2021
  • Kegiatan
  • SMA Kajaolalido

Pertanyaan tersebut adalah sebuah judul buku yang ditulis oleh seorang penulis sekaligus wartawan sebuah majalah yang populer di jamannya, terutama di negara Mesir.  Majalah yang dimaksud adalah “al Manar”.  Pada awalnya majalah ini didukung penuh oleh pemerintah yang berkuasa pada waktu itu, namun, lambat laun majalah tersebut dilarang terbit karena tulisan-tulisannya dianggap menyerang dan berseberangan dengan pemerintah yang berkuasa, hingga pada akhirnya majalah tersebut dilarang lagi terbit hingga saat ini.

Hal ikhwal terbitnya buku "limaadza taakhral muslumuna wa limaadza taqaddama ghairuh” -judul asli buku tersebut- adalah sebuah pertanyaan yang diajukan oleh seorang koresponden majalah tersebut, yang berasal dari Sambas, Kalimantan Barat yang bernama Syekh Basyuni Imran yang hidup dari tahun 1906-1976. Beliau adalah seorang ulama yang haus dengan ilmu pengetahuan, dan telah melanglang buana ke berbagai negara  seperti Mekkah, Mesir, dan sebagainya, untuk memperdalam ilmu pengetahuannya. Nah, pada saat beliau menetap di Mesir itulah, beliau berkenalan dan menjadi murid dari pimpinan redaksi dari majalah “al manar” tersebut.

Pertanyaan yang jauh dari Mesir melintasi Samudera Hindia berasal dari daerah terpencil di Nusantara, pedalaman Sambas. Pertanyaan itu dimuat di majalah al-Manar pada tahun 1929 dan mendapat banyak perhatian. Berhubung karena sangat sibuk, maka Rasyid Ridha meminta pada Amir Syakib Arselan, seorang penulis dan wartawan untuk menjawabnya. 

Satu tahun kemudian muncullah jawaban lengkap dalam bentuk sebuah buku dengan judul yang sama. Buku ini sudah banyak diterjemahkan dalam berbagai bahasa, termasuk dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh Buya Hamka. Sebuah pertanyaan besar telah menembus ruang dan melampaui masa dari pertengahan pertama abad ke-20 sampai pertengahan abad ke-21. Sampai saat ini,  umat belum bisa memberi jawaban secara konkrit.

Arslan menjawab pertanyaan Basyuni Imran dalam beberapa seri di Al-Manar, yang kemudian diterbitkan sebagai buku dengan judul pertanyaan Basyuni Imran “Limadza ta’akhkhara l-muslimuna wa limadza taqaddama ghayruhum?” Pemikiran Syakib Arslan dalam buku ini harus dipahami dalam konteks masanya, yakni masa kolonialisasi dunia Islam oleh Barat dan masa antara dua Perang Dunia I dan II (interwar). Beliau  geregetan melihat pudarnya semangat umat Islam meraih kejayaannya kembali, terutama dengan keluar dari penjajahan dan ketergantungan dari Barat, lalu membangun peradaban berdasarkan atas spirit Islam.

Arslan memulai dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan Islam meraih kebesaran dan kemajuan Islam di masa, sebelum kemudian menganalisis sebab-sebab kemunduran dan keruntuhannya. Setelah itu dia menawarkan jalan keluarnya.

Pertama, Arslan percaya kalau sumber kemajuan Islam “ada di dalam Islam itu sendiri”. Ini terbukti dari sejarah kemunculan Islam di semenanjung Arabia yg mampu menyatukan berbagai etnik dan ras yang ada di Arab, dan membawa mereka keluar dari barbarisme kepada peradaban, dari kekejaman kepada cinta dan simpati, dan menghapus politeisme dan merestorasi peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada saat itu tidak ada kekuatan yang dapat mencegah perkembangan Islam ke segenap penjuru dunia, kecuali perpecahan dan perang saudara di antara mereka sendiri, seperti yang terjadi di akhir periode Usman bin Affan dan periode Ali bin Abi Thalib. Dan Islam pun mampu membangun peradaban dunia pada Abad Pertengahan dengan gemilang. Menurutnya, sebagian besar bagian dari kekuatan penginspirasi yang mengantarkan kemenangan dan capaian-capaian mereka itu pada masa dia telah hilang, walau jejaknya mungkin masih bisa dilacak. Spirit itu justru ada pada orang lain, terutama, saat itu, Eropa, Amerika dan Jepang.

Menurut Arslan, beberapa sebab kemunduran Islam itu adalah kebodohan, ilmu yang tanggung, kemalasan, lemahnya semangat berkorban, dan hilangnya etos kerja, dinamisme, kepercayaan diri dan keberanian.

Selain itu, dia juga menambahkan dua sebab lain, yakni ultra-modernisme dan  konservativisme. Dalam hal ini dia mengatakan: “Sebab utama lain dari kemunduran muslim adalah kekeraskepalaan buta mereka yang membuat mereka mempertahankan konvensi-konvensi usang. Sangat bahaya bagi sebuah bangsa adalah orang yang mengutuk semua yang lama sebagai absurd dan tidak bermanfaat, tanpa memberikan pemikiran kepada nilai intrinsiknya, hanya karena ia ‘lama’. Namun, yang bahayanya tidak kurang adalah orang yang muncul dari aliran konservatif yang ngeyel bahwa perubahan terlarang dalam semua hal. Dengan demikian, ‘ultra-modern’ yang canggih dan konvensionalis konservatif sama-sama menghancurkan Islam.”

Arslan mengkritik kaum muslim konservatif karena dia menganggap bahwa mereka melanggengkan kemiskinan dengan mereduksi Islam hanya berurusan dengan masalah akhirat.

Mereka juga dia tuduh memerangi ilmu-ilmu alam, matematika, dan semua seni kreatif, mengutuknya sebagai praktik orang-orang kafir. Ini menghindarkan muslim dari manfaat ilmu pengetahuan.

Lalu, bagaimana menggapai kemajuan?

Arslan menganjurkan kembali kepada nilai-nilai Islam karena umat Islam pernah berjaya dengan itu. Namun, Arslan juga menganjurkan umat Islam belajar dari Eropa dan Amerika, yang dia sebut musuh, dan Jepang dalam mencapai kemajuan. Inti sari ajaran Islam adalah bahwa manusia harus menggunakan akalnya sebaik-baiknya sebagai petunjuk yang membantunya berpikir dan setelah itu berserah diri kepada Allah terkait hasilnya.

Menurutnya, Islam pada hakekatnya adalah pemberontakan terhadap tradisi negatif dan buruk. Islam bukanlah agama pasif dan konservatisme yang statis, tapi agama yang aktif dan dinamik. Untuk kembali bangkit dan meraih kemajuan yang tinggi, Arslan menyarankan “jihad” dalam pengertian “pengorbanan” jiwa dan harta dalam membangun peradaban. Peradaban Barat dan peradaban maju mana pun, menurutnya, menerapkan jihad dalam pengertian ini juga. Untuk meraih ilmu pengetahuan, misalnya, bangsa-bangsa itu harus mengeluarkan dana dan sumberdaya yang besar.

Arslan meminta muslim melihat bagaimana Eropa pada masa itu mau berkorban untuk mencapai peradaban. Orang Eropa juga menjaga identitas mereka masing-masing. Ini untuk mengritik negeri-negeri Islam yang tidak mau berkorban untuk kemajuan, dan malah meniru identitas orang lain dan meninggalkan identitasnya sendiri.

“Contoh paling bagus adalah orang-orang Eropa. Pelajari mereka sebaik mungkin; kita tidak akan mendapati satu negara pun dari mereka yang ingin kehilangan identitas mereka menjadi orang lain.  Inggris tetap menjadi Inggris, Perancis tetap menjadi Perancis, dst.”

Dia meminta umat Islam belajar kepada Jepang. Sampai 1868 Jepang masih sama dengan bangsa-bangsa Timur tertinggal lainnya. Tetapi mereka bertekad untuk mengejar bangsa-bangsa maju, dan mulailah mereka mempelajari ilmu-ilmu Eropa. Mereka membangun industri seperti industri Eropa. Itulah mereka lakukan secara konsisten selama 50 tahun.

“Nah setiap umat Islam yang hendak bangkit dan menyusul bangsa-bangsa yang maju pun bisa melakukan hal itu sambil tetap berpegang teguh kepada agama. Seperti halnya bangsa Jepang, mereka mempelajari segala ilmu Eropa tanpa terkecuali namun tetap memegang teguh agama yang mereka yakini."

Dia lalu mengatakan bahwa hal itu harus menjadikan Alquran sebagai inspirasi, bukan aspirasi, untuk menggapai kemajuan: “Jika Muslim berusaha berdasarkan inspirasi dari Al-Quran mereka akan dapat mencapai derajat seperti orang-orang Eropa, Amerika, dan Jepang dalam belajar dan ilmu pengetahuan dan perkembangan. Namun, mereka dapat menjaga iman mereka, sebagaimana orang lain melakukan. Lebih lagi, jika kita menggali inspirasi dari Al-Quran, maka kita akan berkembang lebih baik daripada yang lain.”

Seruan menjadikan Al-Qur'an sebagai inspirasi sejalan dengan gerakan modernisme Islam yang lain. Hanya saja bagaimana metodologi pengambilan inspirasi dari Al-Qur'an masih absurd. Namun, bagaimanapun juga, kesediaannya untuk belajar kepada peradaban lain, seperti Barat dan Jepang, menunjukkan sikap keterbukaannya. Tapi keterbukaan yang ditawarkan adalah keterbukaan kritis dan berjarak, karena nilai utama yang dijadikan sumber inspirasi tetaplah nilai Islam dan Al-Qur'an. Di sinilah dia berupaya mempertahankan “ashalah” (otentisitas) dan sekaligus tidak anti pada “mu’asharah” (modernitas) dalam pemikiran dan gerakannya. 

Nah kata kunci dari kemunduran kaum muslim hingga saat ini adalah mereka jauh dari kitab suci Al-Qur’an. Dalam arti kaum muslim menjadikan kitab suci Al-Qur'an, sekadar ritual semata saja, dan tidak ada usaha untuk memahami kandungannya yang selanjutnya menjadikannya inspirasi dalam kehidupan sehari-hari. Padahal inspirasi apapun yang diinginkan oleh segenap kaum muslimin PASTI ada dalam Al-Qur'an. Wallahu a’lam bissawab.

Penulis: Sage al Banna, S.Ag., M.Pd.