64 Tim Berebut Gelar Juara di Athirah Cup XIII
MAKASSAR – Sebanyak 64 tim dari sekolah tingkat SD dan SMP se-Sulawesi Selatan bersaing memperebutkan gelar juara dalam Athirah Cup XIII yang digelar pada 20–30 Oktober 2026. Turnamen futsal yang berlangsung di Lapangan Futsal Sekolah Islam Athirah, Jalan Kajaolalido, Makassar, ini mempertemukan pelajar dari enam daerah, dengan total hadiah mencapai puluhan juta rupiah.
Sebanyak 32 tim tingkat SD dan 32 tim tingkat SMP ambil bagian dalam kompetisi tersebut. Para peserta berasal dari Makassar, Gowa, Maros, Palopo, Pangkep, dan Barru. Kehadiran tim dari berbagai daerah menjadikan Athirah Cup bukan sekadar ajang perebutan gelar juara, tetapi juga ruang bagi pelajar untuk menguji kemampuan dan membangun relasi melalui olahraga.
Ketua Panitia Athirah Cup XIII, Adnin Salsabila Muhtar, mengatakan turnamen ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan bakat, mengasah keterampilan bermain, dan mengukur kemampuan melalui persaingan yang sehat.
Menurutnya, keterlibatan sekolah dari luar Sekolah Islam Athirah turut memperluas interaksi antarpelajar sekaligus mempererat silaturahmi. Karena itu, pencapaian prestasi perlu berjalan seiring dengan sikap sportif dan saling menghargai selama kompetisi berlangsung.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang meraih prestasi, tetapi juga membentuk karakter, kerja sama tim, dan rasa saling menghargai di kalangan peserta,” ujarnya.
Di balik persaingan antartim, Athirah Cup XIII juga menjadi ruang pembelajaran bagi siswa SMP Islam Athirah Makassar yang terlibat sebagai panitia. Pengelolaan turnamen memberi mereka pengalaman langsung dalam menjalankan tanggung jawab, berkoordinasi, dan menghadapi berbagai situasi selama kegiatan berlangsung.
Ketua OSIS SMP Islam Athirah Makassar, Rezki Nurul, menjelaskan bahwa penyelenggaraan Athirah Cup melibatkan proses regenerasi kepanitiaan antargenerasi OSIS. Siswa yang sebelumnya menjadi panitia saat duduk di kelas VIII kini kembali terlibat dengan pengalaman dan tanggung jawab yang lebih besar di kelas IX. Kepengurusan OSIS berikutnya juga dipersiapkan untuk melanjutkan penyelenggaraan kegiatan tersebut.
“Perbedaannya dengan tahun sebelumnya, panitia yang dulu masih kelas VIII sekarang sudah kelas IX. OSIS yang sekarang juga akan menjadi panitia berikutnya. Kami berharap kegiatan ini berjalan sportif sekaligus menjadi sarana menjalin silaturahmi dengan sekolah lain,” katanya.
Kepala SMP Islam Athirah Makassar, Nilamartini, mengatakan Athirah Cup yang telah memasuki edisi ke-13 menjadi salah satu wadah untuk mempertemukan pelajar dari berbagai daerah dalam kompetisi olahraga. Selain mendorong peserta menunjukkan kemampuan terbaik, kegiatan ini juga diharapkan menumbuhkan sportivitas dan memperkuat hubungan antarsekolah.
Ia menambahkan, pengalaman menyelenggarakan kegiatan berskala besar memberi kesempatan kepada siswa untuk mempraktikkan keterampilan kepemimpinan yang tidak cukup dipelajari melalui teori di kelas.
Menurut Nilamartini, hal tersebut sejalan dengan pengembangan leadership Islami di SMP Islam Athirah Makassar. Melalui keterlibatan dalam kepanitiaan, siswa belajar membangun kolaborasi, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, serta beradaptasi ketika menghadapi situasi yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
“Dalam kegiatan seperti ini, siswa akan menghadapi berbagai situasi yang membutuhkan kolaborasi, komunikasi, problem solving, dan learning agility. Keterampilan tersebut kami dorong untuk tumbuh melalui pengalaman langsung, bukan hanya melalui pembelajaran di kelas,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa pengembangan potensi siswa di Sekolah Islam Athirah tidak terbatas pada bidang akademik, tetapi juga mencakup olahraga dan pengenalan budaya Indonesia. Berbagai ruang pengembangan tersebut diharapkan membantu siswa mengenali kemampuan diri, membangun kepercayaan diri, dan belajar menghargai perbedaan.
Melalui Athirah Cup XIII, Sekolah Islam Athirah menghadirkan kompetisi yang mempertemukan dua tujuan sekaligus: mendorong prestasi olahraga dan memberikan pengalaman belajar di luar kelas. Bagi para peserta, persaingan di lapangan menjadi kesempatan untuk membuktikan kemampuan, sedangkan prosesnya menjadi latihan untuk bekerja sama, menghormati lawan, dan menerima hasil pertandingan dengan sportif.
Laporan : Hasniwati Ajis
