image

Siswi SMP Islam Athirah Bone Pukau Panggung Utama Festival Gau’ Maraja 2026

Dengarkan Berita
Putar isi berita dalam Bahasa Indonesia secara otomatis

WATAMPONE — Perhelatan budaya terbesar di Sulawesi Selatan, Festival Gau’ Maraja Bone 2026, resmi berakhir pada Selasa (30/9). Di antara kemegahan gelaran yang berlangsung selama enam hari tersebut, penampilan memukau dari salah seorang siswi SMP Islam Athirah Bone, Maria Zikra, berhasil mencuri perhatian ribuan pengunjung di panggung utama.

Maria Zikra terpilih menjadi salah satu pembaca puisi utama setelah melalui proses seleksi ketat. Dari tujuh peserta lintas jenjang—mulai dari tingkat SMP hingga mahasiswa—ia berhasil masuk dalam jajaran tiga penampil terbaik yang diberi kesempatan menyajikan karya sastra di panggung megah Lapangan Merdeka Watampone.

Ditemui usai penampilannya, siswi kelahiran Makassar, 29 April 2012 ini mengungkapkan alasannya mendalami seni pertunjukan sastra.

"Bahasa Bugis adalah bahasa ibu saya. Saya ingin memperkenalkan keindahan sastra Bugis kepada masyarakat luas agar generasi muda tidak melupakan akar budayanya," ujar Maria, yang juga memiliki hobi public speaking serta menyukai mata pelajaran IPA dan Bahasa Inggris tersebut.

Putri dari pasangan drh. Agusriady, M.Anim.Sc.  dan Andi Febrianti, S.H.  ini memang bukan nama baru di dunia seni tutur. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Maria telah aktif mengukir prestasi, salah satunya meraih Juara I Lomba Puisi se-Kabupaten Bone pada Festival Sastra.

Melalui keikutsertaannya di Festival Gau' Maraja 2026, Maria berharap generasi muda di Sulawesi Selatan semakin terdorong untuk mencintai dan mengenali kembali bahasa daerahnya. Ia juga menyimpan asa untuk dapat kembali tampil di panggung seni bertaraf nasional maupun internasional pada masa mendatang.

Festival Gau’ Maraja Bone 2026 yang berlangsung pada 25–30 September 2026 mengusung tema “Simfoni Lumbung Bone 2026, Merayakan Budaya dan Pangan”. Tema ini diangkat sebagai bentuk penghormatan atas rekam jejak sejarah Kabupaten Bone yang kini telah melintasi usia lebih dari enam abad.

Selama enam hari berturut-turut, perhelatan ini menghadirkan enam rangkaian sub-festival yang tersebar di sembilan titik lokasi di Kabupaten Bone. Rangkaian acara menyajikan ragam tradisi dan kesenian agraris, antara lain:  Ritual Mapaddrekko: Prosesi penumbukan lesung secara kolosal yang melambangkan rasa syukur atas hasil panen. Pertunjukan Kolosal Lappo Ase: Mementaskan ratusan penari lokal yang dipadukan dengan iringan orkestra musik etnik. Karnaval Budaya & Pameran Pusaka: Menampilkan identitas serta keanekaragaman artefak bersejarah masyarakat Bone. Atraksi Seni Tradisional: Unjuk kebolehan kontingen dari berbagai kecamatan, seperti pementasan Tari Pajjaga hingga tradisi bahari Malloro Lopi. Nurholis_Tim Athirah Web

Previous PostRiset Siswa SMP Islam Athirah Makassar Raih Emas di OPSI 2026