Kegiatan

on 18 Oktober 2021
  • Kegiatan
  • SMP Kajaolalido

Pengembangan Sekolah Berbasis Asset (PSBA) merupakan istilah yang diadaptasi dari Pengembangan Komunitas Berbasis Asset atau Asset Base Community Development, yang biasa disingkat ABCD. Istilah ini muncul karena sekolah merupakan suatu komunitas. Di dalam komunitas sekolah terdapat faktor biotik dan abiotik yang memiliki keterkaitan serta saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.

PSBA merupakan suatu pengembangan yang berfokus pada kekuatan atau potensi yang dimiliki oleh sekolah. PBSA selalu memikirkan masa depan dengan berpikir tentang kesuksesan yang telah diraih serta mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya yang ada. Dalam PBSA visi dan kekuatan digunakan untuk merencanakan dan melaksanakan aksi yang sudah diprogramkan. Dengan demikian PBSA tidak fokus pada kekurangan serta masalah dan hambatan yang ada.

PSBA selaras dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara. KHD menyatakan bahwa maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat. Jika makna pendidikan secara umum adalah mengembangkan segala kekuatan, maka demikian juga dengan sekolah sebagai komunitas yang bergerak dalam dunia pendidikan. Sudah semestinya sekolah melakukan pengembangan berdasarkan kekuatan yang ada.

Dalam Undang- Undang RI No.20 tahun 2003, disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dengan demikian sekolah merupakan tempat untuk menumbuhkan nilai-nilai positif. Nilai-nilai dapat tumbuh melalui proses dan pemaknaan atas pengalaman, sehingga harus dipastikan bahwa seluruh proses dan pemaknaannya adalah positif.

PSBA menggunakan paradigma inkuiri apresiatif yaitu sebuah pendekatan kolaboratif dalam melakukan perubahan yang berbasis kekuatan. Tools dalam inkuiri apresiatif dikenal dengan istilah BAGJA, sebuah akronim dari kata Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, dan Atur eksekusi. Kata BAGJA sendiri dalam bahasa sunda berarti bahagia. Dengan memetakan kekuatan dalam diri dan potensi murid, dapat dibuaat perencaan dan pengelolaan strategi perubahan untuk mencapai visi pribadi yaitu bahagia.

PSBA erat kaitannya dengan proses membangun budaya positif di sekolah. Tujuan membangun budaya positif adalah menumbuhkan karakter anak. Salah satu karakter penting adalah kedisiplinan. Yang perlu diingat bahwa tujuan akhir dari disiplin adalah agar anak memahami perilaku mereka sendiri, mengambil inisiatif, menjadi bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan menghargai diri mereka sendiri dan orang lain. Oleh karena itu tindakan guru yang tepat yaitu dengan bertanya dan membuat kesepakatan agar mendorong motivasi intrinsik.

PSBA erat pula kaitannya dengan pembelajaran berdiferensiasi, pembelaran sosial emosional, serta proses coaching. Ketiga hal ini sangat berpengaruh terhadap guru sebagai pemimpin pembelajaran yang sekaligus juga sebagai aset sekolah. Melalui pembelajaran berdiferensiasi, guru lebih menghargai keberagaman potensi yang dimiliki oleh murid sehingga potensi murid tersebut dapat berkembang secara maksimal. Dengan pembelajaran sosial emosional guru tidak hanya membangun kecerdasan otak murid, tetapi juga kecerdasan hati. Sedangkan melalui proses coaching guru akan mampu membimbing murid untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan caranya sendiri dan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya.

PSBA dalam pelaksanaanya bukan tidak mungkin menghadirkan suatu dilema etika atau bahkan godaan moral. Dilema etika adalah suatu kondisi dimana sesorang dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama benar namun memiliki kepentingan yang berbeda. Sedangkan godaan moral adalah suatu kondisi dimana seseorang dihadapkan pada pilihan benar dan salah. Seorang pemimpin pembelajaran dalam PBSA harus terampil dalam membuat keputusan yang tepat. Keputusan yang diambil harus memperhatikan 4 paradigma, 3 prinsip serta 9 langkah pengambilan keputusan. 

4 paradigma dalam pengambilan keputusan diantaranya yaitu individu lawan masyarakat, rasa keadilan lawan rasa kasihan, kebenaran lawan keadilan serta jangka pendek lawan jangka panjang. Adapun 3 prinsip dalam pengambilan keputusan diantaranya yaitu berpikir berbasis hasil akhir, berpikir berbasis peraturan, serta berpikir berbasis rasa peduli. Sementara itu 9 langkah pengambilan keputusan diantaranya sebagai berikut.

  1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan.

  2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi

  3. Mengumpulkan fakta yang relevan dengan situasi

  4. Melakukanpengujian benar/salah diantaranya uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji publikasi, dan uji panutan.

  5. Pengujian 4 paradigma 

  6. Melakukan prinsip resolusi (apakah berbasis hasil akhir, aturan, atau rasa peduli)

  7. Melakukan investigasi opsi trilema, yaitu membuat suatu keputusan alternative

  8. Membuat keputusan

  9. Melihat lagi keputusan / merefleksikan.

    Kesimpulan yang bisa dibuat berdasarkan uraian di atas adalah PSBA dapat mengembangkan potensi atau sumber daya yang ada di sekolah. Beragam sumber daya yang ada di sekolah dapat dikelompokkan menjadi 7 macam aset atau modal diantaranya yakni modal manusia, modal social, modal fisilk, modal lingkungan, modal finansial, modal politik, serta modal agama dan budaya.


Penulis : Rini Budiarti (Tim Web SMP Islam Athirah 1 Makassar)