Kegiatan

on 20 Oktober 2021
  • Kegiatan
  • SMP Kajaolalido

Penulis : Hilma Yusuf,S.Pd. (Guru Bahasa Inggris SMP Islam Athirah 1 Makassar)

Rasulullah Bersabda: “Barangsiapa Yang Ingin Dijauhkan Dari Neraka Dan Dimasukkan Ke Surga Dan Kematian Mendatanginya Dalam Kondisi Dia Beriman Kepada Allah Ta’ala Dan Hari Akhir, Maka Hendaklah Dia Bersikap Kepada Orang Lain Dengan Sikap Yang Ingin Dia Dapatkan Dari Orang Lain.”

(HR. Muslim No. 8442)

Saat membuka sosial media beberapa hari yang lalu, saya menemukan sebuah tulisan dari seseorang  yang dulunya adalah seorang wartawan yang kini sudah menjadi penulis dan telah menerbitkan banyak buku. Salah satu bukunya berjudul "Murahkan Maharmu Mahalkan Cintamu." Dalam tulisannya beliau sering mengangkat hal-hal ringan yang ada di sekitar kita namun sarat dengan makna. Salah satu contohnya adalah tulisan di bawah ini yang erat kaitannya dengan hadist yang ada di atas.

“Apa yang menyesakkan dari laga Euro kali ini? Tersingkirnya lebih awal Perancis dan Portugal, kemudian menyusul Jerman?  Oh, bukan. Saya lebih tertarik dengan momen pertemuan Mbappe dan Ronaldo jadi rival dalam satu pertandingan.

Ronaldo adalah sosok panutan Mbappe. Orang yang menginspirasinya untuk bermain bola di kancah profesional. Dan memang sudah sempat viral, foto masa kecil Mbappe di dalam kamarnya yang dindingnya dipenuhi poster Ronaldo. Meski saat ini prestasinya belum semoncer sang idola, setidaknya kini mereka sudah dianggap setara di lapangan. 

Saya jadi ingat foto Marquez kecil dan Valentino Rossi. Sebagaimana Mbappe, Marquez juga pernah mengidolakan Rossi, tidak jarang ia mengejar Rossi untuk minta foto bareng dan tanda tangan. Namun apa yang terjadi belasan tahun kemudian di luar dugaan. Rossi yang gantian mengejar Marquez, mengejar dalam arti yang sesungguhnya. Yang dikejar bahkan enam kali melampaui idola masa kecilnya, sebagai juara dunia.

Dari sini, kita bisa belajar bahwa sama sekali tidak ada gunanya merasa jumawa dan lebih hebat ketika kita sedang berada pada level lebih tinggi di atas seseorang, meski itu hanya perkara remeh seperti masalah usia. 

Budaya superioritas dan senioritas memang mestinya saat ini harus sudah habis dipangkas. Karena bisa saja, meski hari ini kita berada di atas, besok, bisa saja kita sudah di bawah. 

Seperti halnya seorang kakak kelas, sepatutnya selalu menghargai adik kelasnya. Bukan tidak mungkin, di kemudian hari justru dialah yang akan bawa-bawa map meminta lowongan kerja pada adik kelasnya.

Guru dan dosen, juga jangan mempersulit murid atau mahasiswanya. Karena saya pernah mendapati situasi di mana seorang guru yang kembali kuliah dalam rangka mengejar sertifikasi, lalu mendapatkan dosen pengajarnya ternyata adalah mantan muridnya.

Begitu pula dalam dunia birokrasi. Mudahkan urusan orang-orang kecil yang membutuhkan.

Apalagi saya sering menyaksikan, orang yang bekerja di bagian pelayanan sosial , biasanya juteknya minta ampun bahkan seperti artis dikejar-kejar saat mereka dibutuhkan. Mereka mungkin lupa, bahwa bukan hal sulit bagi Allah membalikkan keadaan, dan membuat nasib setiap orang tertukar. 

Jadi, selalulah perlakukan orang di bawahmu dengan semestinya, sebagaimana kau ingin diperlakukan juga, jika dalam posisi yang sama. Jangan lupa diri dan suka memandang sebelah mata siapapun itu. Meski orang itu saat ini masih bukan siapa-siapa.

Editor : Hasniwati Ajis (Tim Web SMP Islam Athirah 1 Makassar)